Rabu, 25 Februari 2009

MENGEMBALIKAN REVOLUSI KE JALANAN

Jujur saja, sebenarnya saya adalah bagian dari mereka yang muak dengan kata "REVOLUSI". Bukan lantaran saya penyembah status quo dan menuhankan kemapanan, melainkan karena kata 'REVOLUSI' itu sudah terlalu sering diucapkan sehingga esensinya semakin lama semakin pudar. 'REVOLUSI' bahkan telah menjadi komoditi bagi para pemilik modal. Wajah Che guevara yang sering dianggap representasi 'perlawanan & revolusi' adalah wajah yang cukup manis untukm di sablon di jual di etalase - etalase mal dan plaza. Lantas kaos itupun dibeli oleh seorang pemuda tanggung yang gemar mengepalkan tangan ke udara, yang belum apa - apa sudah berteriak "REVOLUSI! REVOLUSI!". Setiap orang mengepalkan tangan, setiap orang berteriak lantang, setiap orang mengucapkan satu kata yang menurut saya telah kehabisan tenaga: 'REVOLUSI'.


'REVOLUSI' mencret! gerutu saya selalu. Ayo kumpulkan puluhan pemuda berusara lantang dan teriakkan 'REVOLUSI!' ribuan kali, boleh juga kalau ingin ditambah dengan kalimat 'HANCURKAN KAPITALISME', Silahkan saja kalau ingin ditambah dengan kalimat 'rakyat bersatu tak terkalahkan', jika masih ingin ditambah dengan kata 'lawan' it's OK! Silahkan saja. Tak ada yang melarang. Namun apa yang terjadi selanjutnya? apakah perubahan akan otomatis lahir ke permukaan? Jawabannya tentu saja : Iya! Suara akan mengalami perubahan menjadi serak!

Apa boleh buat. Pada akhirnya saya lebih tertarik dengan kata "MENCRET", yang menurut saya kata tersebut masih tampak seksi dan menggairahkan. Itu sebabnya, ketika banyak orang berteriak: "revolusi! revolusi!". Saya lebih memilih berteriak: "Mencret! Mencret!"

Saya tidak bermaksud meledek apalagi bercanda. Di tulisan ini saya mencoba untuk tetap serius. Kata 'MENCRET' adalah kata yang lebih real (nyata) ditelinga masyarakat kita. Setiap kali mendengar kata "MENCRET" masyrakat kita akan langsung bisa mendeskripsikan baunya, bentuknya dan warnanya. "MENCRET" adalah kata yang hidup! Tidak seperti kata "REVOLUSI", yang seringkali meninggalkan tanda tanya besar dibenak masyarakat kita setiap kali mendengarnya. "REVOLUSI" adalah kata yang tak bernyawa! Lantas bagaimana revolusi akan terwujud jika sebagian masyarakat kita masih merasa asing dengan kata tersebut?

itu sebabnya saya sangat antusias dengan wacana revolusi jalanan. Memang sudah saatnya kita hidupkan kembali makna revolusi, agar masyarakat kita bisa mendeskripsikan baunya, bentuknya dan warnanya. Kalau sudah begitu, revolusi memang benar - benar tinggal menunggu waktu.

Mari kita katakan kepada keluarga, tetangga, rekan kerja, tukang roti, penjual mie ayam, tukang sayur, dan segala lapisan masyarakat di negeri ini yang penuh ironi ini, bahwa Revolusi adalah suatu bentuk perubahan sosial demi menuju peradaban yang lebih menjanjikan. Mari kita bisikkan di telinga kepanakan keponakan kita, adik - adik kecil kita, bahwa revolusi adalah sesuatu hal yang menyenangkan untuk melawan para monster monster kapitalisme yang rakus dan jahat. Mari kita katakan kepada semua orang bahwa revolusi adalah suatu gerakan pemikiran untuk menghancurkan nilai - nilai lama yang sudah usang dan tak bisa lagi diandalkan. Sehingga dengan begitu revolusi tidak akan lagi ongkang - ongkang kaki di menara gading. Revolusi akan turun ke jalan berdampingan kepada masyarakat menuju perubahan.

Dan, perubahanpun akan terjadi dengan senyum terkembang,sebab semua itu dilakukan dengan penuh kesadaran. maka kembalikanlah Revolusi ke jalanan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar